Selasa, 28 Desember 2010

Ki Ageng Mangir Wanabaya

 
                                                          Ki Ageng Mangir Wanabaya



Tokoh ini merupakan salah satu tokoh dari sedikit tokoh yang berani untuk tidak patuh pada Mataram. Ki Ageng Mangir, atau Ki Ageng Wanabaya, adalah seorang tokoh penting adalam perkembangan Kerajaan Mataram. Tokoh ini mempunyai hubungan yang unik dengan Mataram, yaitu sebagai menantu sekaligus musuh. Itulah sebabnya, makam Ki Ageng Mangir yang terdapat di Kotagede, separuh di dalam separuh di luar (komplek makam).
Sejarah Ki Ageng Mangir sendiri dimulai dari zaman Majapahit (secara umum, kisah-kisah di Jawa bersumber ke Majapahit), yaitu dari Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang mempunyai seorang putra bernama Radyan Alembumisani. Radyan Alembumisani melarikan diri ke arah barat (diduga sewaktu Majapahit mengalami huru-hara sebelum hancur oleh Demak), dan mempunyai putra bernama Radyan Wanabaya. Radyan Wanabaya yang kemudian dikenal dengan sebutan Ki Ageng Mangir I, yang tinggal di daerah perdikan Mangir, sebuah wilayah yang dekat dengan pertemuan dua sungai, sungai progo dan sungai bedog.
Selanjutnya, ia mempunyai putra yang dikenal dengan Ki Ageng Mangir II. Ki Ageng Mangir II inilah ayah dari Ki Ageng Mangir III yang hidup semasa Mataram era awal. Menurut cerita lisan, Ki Ageng Mangir II mempunyai seorang selir, yang dari selir tersebut lahir seorang, ataupun seekor naga. Naga inilah yang dikenal dengan nama "Baru Klinthing" (cerita serupa juga dijumpai di daerah Rawa Pening, Jawa Tengah). Kemudian ular tersebut tidak diakui oleh ayahnya, jika tidak bisa melilit Gunung Merapi dengan tubuhnya. Dikisahkan panjang tubuhnya kurang, sehingga ia menggunakan lidahnya untuk memenuhi kekurangannya. Namun oleh ayahnya lidahnya dipotong dan dijadikan sebuah senjata bernama Tombak baru Klinthing. Karena senjata ini pula, Panembahan Senopati tak berani melawan Ki Ageng Mangir III secara langsung, sehingga disusunlah siasat untuk mengalahkannya dengan halus.
Kesalahpahaman yang sering dijumpai adalah, Ki Ageng Mangir ini tinggal di daerah MANGIR, sebelah barat kota Yogyakarta, sebuah desa di dekat pertemuan dua sungai Sungai Bedog dan Sungai Progo, bukan di daerah MANGIRAN seperti yang sering dijumpai dalam artikel-artikel tentang tokoh ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar