Selasa, 28 Desember 2010

JEJAK-JEJAK KEKUASAAN SENAPATI ATAS MANGIR

Mangir pada hakikatnya adalah sebuah dusun, tepatnya berada di sebelah selatan Kota Yogyakarta (+ 20 km). Jarak Mangir dari Kotagede kurang lebih juga 20-an km. Mangir terbagi atas tiga wilayah yang lebih kecil, yakni Mangir Lor, Mangir Tengah, dan Mangir Kidul. Tiga nama Mangir ini masuk dalam wilayah Desa/Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Posisi wilayah Mangir agak masuk ke sisi sebelah barat daya Kabupaten Bantul dengan kondisi alam yang relatif subur di bagian tengah dan perbukitan kapur di sisi selatan. Meskipun daerahnya agak menjorok ke dalam, tetapi lokasi Mangir dapat dicapai dengan kendaraan bermesin karena jalan-jalan penghubungnya sudah banyak yang dibangun dengan baik dan beraspal.
Mangir pada zamannya tidak pernah merasa perlu tunduk di bawah kekuasaan siapa pun (baik Pajang maupun Mataram). Wilayah ini pada zamannya barangkali tidak berbeda jauh dengan wilayah Mataram pada zaman Senapati. Barangkali pula Mangir masih meneruskan tradisi Majapahit, yakni sebagai sebuah wilayah perdikan sehingga secara tradisi pula Mangir bebas dari pajak dan berhak penuh mengelola dirinya sendiri. Bedanya, Mangir tidak pernah meluaskan wilayahnya seperti Mataram. Apabila Mataram biasa disebut sebagai sebuah kerajaan, maka pantas pulalah kalau Mangir pun pada zamannya disebut sebagai sebuah kerajaan.
Kebesaran Mangir barangkali dapat dilihat dari wilayahnya yang meliputi tiga dusun tersebut (bahkan dalam cerita tutur disebutkan bahwa kademangan di sekitar Mangir pun menyatakan diri sebagai pengikut Mangir, seperti Kademangan Pajangan, Kademangan Tangkilan, Kademangan Pandak, Kademangan Paker, Kademangan Jlegong) . Di samping itu, di Dusun Mangir Tengah juga ditemukan sebuah dhampar 'tempat duduk raja/ petinggi/pemimpin suatu daerah'. Dhampar berukuran sekitar 1 x 1 meter persegi dengan ketinggian sekitar 30-40 cm yang terbuat dari batu andesit tersebut sampai sekarang masih dirawat baik oleh penduduk setempat. Di samping dhampar tersebut, hampir di seluruh Dusun Mangir ditemukan puing-puing batu bata dan batu putih yang diyakini sebagai sisa-sisa bangunan/pagar/benteng Kerajaan Mangir. Lingga dan yoni dalam bentuk relatif masih utuh pun ditemukan di sana. Demikian pula lembu Nandhi. Temuan-temuan di atas mengindikasikan bahwa pada awalnya wilayah Mangir atau paling tidak pemimpinnya, mempunyai kepercayaan Hindu.
Dua Buah Makam Ki Ageng Mangir
Awam umumnya mengenal bahwa makam Ki Ageng Mangir berada di kompleks makam Kotagede. Akan tetapi sebagain kecil masyarakat meyakini bahwa makam Ki Ageng Mangir berada di Dusun Saralaten, Sidakarta, Godean, Sleman, Yogyakarta. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi di kalangan masyarakat. Spekulasi yang pertama menduga bahwa makam Ki Ageng Mangir di Kotagede adalah makam yang dibuat dengan tujuan politis. Makam Mangir di Kotagede dibuat demikian unik. Setengah batu nisannya berada di luar pagar kompleks makam dan yang lainnya berada di dalam. Hal ini dimaksudkan oleh Senapati sebagai pengakuan atas Mangir sebagai menantu (dilambangkan dengan batu nisan yang berada di dalam tembok) dan sekaligus sebagai musuh (dilambangkan dengan batu nisan yang berada di luar pagar tembok).
Dengan demikian, peristiwa atas pembunuhan putra menantu sendiri yang dilakukan oleh Senapati menjadi kelihatan sah. Di samping itu, Senapati pun merasa sah pula mengakui musuhnya sebagai menantu. Dari sisi politis menjadi demikian jelas bahwa Senapati tidak segan-segan melakukan pembersihan terhadap siapa pun, termasuk putra menantu.
Spekulasi kedua atas fenomena makam Mangir di Dusun Saralaten, Sidakarta, Godean, Sleman meyakini bahwa Ki Ageng Mangir yang dibunuh oleh Senapati itu tidak dimakamkan di Kotagede. Dalam cerita tutur dikatakan bahwa jenazah Ki Ageng Mangir dikeluarkan melalui pintu belakang Keraton Mataram lalu dibawa oleh Demang Tangkilan pulang ke daerahnya (Tangkilan, nama sebuah dusun yang terletak di sebelah timur Dusun Saralaten, Godean). Pada masa itu Saralaten barangkali masih berada di bawah pemerintahan Kademangan Tangkilan, Oleh Demang Tangkilan inilah jenazah Ki Ageng Mangir dikuburkan di wilayahnya. Persoalannya kemudian adalah mengapa jenazah itu tidak dikuburkan di Mangir oleh Demang Tangkilan. Dugaan yang dapat diajukan atasnya barangkali adalah karena Demang Tangkilan tidak berani menolak perintah Senapati untuk menguburkan Mangir di wilayahnya. Dugaan yang lain adalah karena setelah pembunuhan Mangir kemungkinan besar Senapati terus melakukan pembersihan dan penghancuran Mangir. Hal demikian biasa dilakukan oleh pembesar-pembesar masa itu karena merasa kedudukannya akan menjadi terancam di kemudian hari oleh saudara, kerabat, dan anak keturunan dari bekas musuhnya. Oleh karena itu, prinsip babat habis sampai ke akar-akarnya sering diterapkan penuh.
Dugaan yang kedua ini diperkuat pula oleh banyaknya orang yang bersimpati/yang masih merasa keturunan Mangir yang kemudian selalu melakukan ziarah ke makam Saralaten dan justru bukan di Kotagede. Makam Saralaten ini konon ditemukan pertama kali oleh Bapak Soewarno pada tahun 1969. Pada saat ditemukan masih merupakan gundukan batu bata yang tertutup rumput. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana pembuktian makam itu sebagai makam Ki Ageng Mangir. Hanya diceritakan bahwa Bapak Soewarno pada masa hidupnya demikian penasaran dan tekun mencari-cari lokasi makam Ki Ageng Mangir. Dipercaya pula bahwa penemuan makam tersebut dilandasi juga dengan laku spiritual. Keyakinan Bapak Soewarno atas makam Saralaten ini dibuktikan pula dengan pemugaran yang dilakukan pada tahun 1976 sehingga makam tersebut menjadi kelihatan megah dan bersih.
Tiga Tokoh Ki Ageng Mangir Wanabaya
Dalam buku-buku sejarah tidak pernah disebutkan dengan jelas siapakah tokoh Ki Ageng Mangir. Dalam buku sejarah versi De Graaf pun (Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Awal Kebangkitan Mataram, Puincak Kekuasaan Mataram, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I, dan Runtuhnya Istana Mataram) nama Mangir tidak pernah disebut sama sekali. Nama Mangir justru terkenal di dalam cerita tutur dan buku Babat Mangir
Dalam Babat Mangir disebutkan paling tidak ada tiga tokoh yang menggunakan nama Mangir. Dalam tulisan ini akan digunakan penomoran untuk membedakan tokoh-tokoh yang semuanya menggunakan nama Mangir. Mangir I adalah putra Radyan Alembumisani, seorang pelarian dari Kerajaan Majapahit. Konon Radyan Alembumisani adalah putra Brawijaya yang melarikan diri dari majapahit karena serbuan tentara Demak. Ketika muda Mangir I ini diberi nama Radyan Wanabaya. Radyan Wanabaya (Mangir I) inilah yang kemudian tinggal di Mangir sehingga ia terkenal dengan nama Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Ki Ageng Mangir Wanabaya I kawin dengan seorang putri dari Juwana. Dari perkawinan tersebut lahirlah Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Di samping itu, Ki Ageng Mangir I juga mempunyai anak dari seorang gadis, putri dari Demang Jalegong. Perkawinan Ki Ageng Mangir Wanabaya I dengan Rara Jalegong konon melahirkan seorang anak yang berupa ular (demikian disebut-sebut dalam babad dan cerita tutur). Anak yang kelak terkenal dengan nama Ki Bagus Baruklinting ini mempunyai kesaktian yang luar biasa pada lidahnya sehingga lidahnya dibuat menjadi sebilah mata tumbak oleh ayahnya sendiri dan diberi nama Kiai Baru.
Dalam persepsi Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Drama Mangir, Baruklinting dipersonifikasikan sebagai pemuda yang pandai menghimpun massa dan ahli strategi perang. Barangkali apa yang dipersepsikan Pram tidak meleset jauh mengingat cerita tutur Jawa dan babad sering demikian banyak dibumbui cerita-cerita yang berbau mitos, sandi, sanepa 'perumpamaan/teka-teki', dan legenda.
Ki Ageng Mangir Wanabaya II kelak kawin dengan seorang gadis, putri dari Demang Paker. Dari perkawinan ini lahirlah Ki Ageng Mangir Wanabaya III. Ki Ageng Mangir Wanabaya III inilah yang kelak meneruskan sifat-sifat ayah maupun kakeknya untuk tidak tunduk pada pemerintahan Pajang maupun Mataram. Ia pulalah yang kemudian mewarisi tumbak Kiai Baru.
Seperti apa yang dikemukakan Pram, sangat logislah bahwa putra Ki Ageng Mangir I dengan Rara Jalegong tetaplah berupa manusia juga. Manusia itu diberi nama Baruklinting. Hanya karena ia lahir dari seorang wanita yang tidak dinikah, maka dalam cerita babad ia digambarkan sebagai ular. Kesaktian yang terletak di lidahnya diidentikkan oleh Pram sebagai lidah yang demikian micara 'semacam ahli pidato/diplomasi' dan ahli strategi. Kepandaiannya berdiplomasi mengakibatkan Baruklinting mudah menghimpun massa. Tidak aneh apabila kemudian ia menjadi sosok yang demikian diandalkan oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya II (saudara tirinya) dan Ki Ageng Mangir Wanabaya III pada zaman berikutnya (dalam versi Babad Mangir I diceritakan bahwa Baruklinting tewas begitu dipotong lidahnya oleh ayahnya. Sukma Baruklinting kemudian diperintahkan untuk tinggal di Rawapening oleh ayahnya).
Pada masa kepemimpinan Ki Ageng Mangir Wanabaya III inilah Senapati melakukan aneksasi dengan jalan halus (siasat perkawinan) dan kasar (peperangan-perampasan). Dalam babad diceritakan bahwa kehendak untuk menghancurkan Mangir dari semula memang sudah tumbuh di hati Senapati. Ki Mandaraka menganjurkan supaya Mangir ditaklukkan dengan cara halus. Dengan demikian biaya perang bisa dihemat, korban jiwa dan harta tidak banyak yang jatuh. Siasat itu berhasil setelah Senapati mengumpankan putrinya sendiri yang bernama Rara Pembayun agar dapat dikawin oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya III. Melalui Rara Pembayun itu pula Ki Ageng Mangir Wanabaya III menjadi bersikap sedikit lunak kepada Senapati (Mataram). Kelunakan hati Mangir III ini ditunjukkan dengan kesediaan Mangir III menghadap ke Mataram. Ketika menghadap itulah ia dihabisi oleh Senapati.
Untuk menunjukkan pengakuan menantu sekaligus musuh atas Mangir III ini konon Senapati membuat makam dengan separoh batu nisan berada di luar pagar tembok dan separo lainnya berada di dalam tembok kompleks makam Kotagede. Belum diketahui dengan jelas siapakah sesungguhnya yang membangun makam Mangir III di Kotagede itu. Apakah memang Senapati ataukah raja-raja Mataram setelah Senapati.

Ki Ageng Mangir Wanabaya

 
                                                          Ki Ageng Mangir Wanabaya



Tokoh ini merupakan salah satu tokoh dari sedikit tokoh yang berani untuk tidak patuh pada Mataram. Ki Ageng Mangir, atau Ki Ageng Wanabaya, adalah seorang tokoh penting adalam perkembangan Kerajaan Mataram. Tokoh ini mempunyai hubungan yang unik dengan Mataram, yaitu sebagai menantu sekaligus musuh. Itulah sebabnya, makam Ki Ageng Mangir yang terdapat di Kotagede, separuh di dalam separuh di luar (komplek makam).
Sejarah Ki Ageng Mangir sendiri dimulai dari zaman Majapahit (secara umum, kisah-kisah di Jawa bersumber ke Majapahit), yaitu dari Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang mempunyai seorang putra bernama Radyan Alembumisani. Radyan Alembumisani melarikan diri ke arah barat (diduga sewaktu Majapahit mengalami huru-hara sebelum hancur oleh Demak), dan mempunyai putra bernama Radyan Wanabaya. Radyan Wanabaya yang kemudian dikenal dengan sebutan Ki Ageng Mangir I, yang tinggal di daerah perdikan Mangir, sebuah wilayah yang dekat dengan pertemuan dua sungai, sungai progo dan sungai bedog.
Selanjutnya, ia mempunyai putra yang dikenal dengan Ki Ageng Mangir II. Ki Ageng Mangir II inilah ayah dari Ki Ageng Mangir III yang hidup semasa Mataram era awal. Menurut cerita lisan, Ki Ageng Mangir II mempunyai seorang selir, yang dari selir tersebut lahir seorang, ataupun seekor naga. Naga inilah yang dikenal dengan nama "Baru Klinthing" (cerita serupa juga dijumpai di daerah Rawa Pening, Jawa Tengah). Kemudian ular tersebut tidak diakui oleh ayahnya, jika tidak bisa melilit Gunung Merapi dengan tubuhnya. Dikisahkan panjang tubuhnya kurang, sehingga ia menggunakan lidahnya untuk memenuhi kekurangannya. Namun oleh ayahnya lidahnya dipotong dan dijadikan sebuah senjata bernama Tombak baru Klinthing. Karena senjata ini pula, Panembahan Senopati tak berani melawan Ki Ageng Mangir III secara langsung, sehingga disusunlah siasat untuk mengalahkannya dengan halus.
Kesalahpahaman yang sering dijumpai adalah, Ki Ageng Mangir ini tinggal di daerah MANGIR, sebelah barat kota Yogyakarta, sebuah desa di dekat pertemuan dua sungai Sungai Bedog dan Sungai Progo, bukan di daerah MANGIRAN seperti yang sering dijumpai dalam artikel-artikel tentang tokoh ini.


Jumat, 24 Desember 2010

Mangir Wonoboyo - Galeri - Mengintip Jendela Mangir

Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS
Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS
Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS Highslide JS

SUSUNAN PEMUDA INTI PEDUKUHAN MANGIR TENGAH TH 2009/2011

Ketua & wakil:Hadjar yoeli & Soebandiex.
Sekertaris : Dyah ayu & Budiex tri w.
Bendahara :Rirehz & Nanixt.

 Cerw lapangan khusus :

1.Bennyx
2.Samzudin
3.Agoez .b
 4.Derry
5.Partijoxt
6.Adjiext
7.tyson el-loco setyawan
..


Crew dalam :
seluruh pemuda/i mangir tengah..
 N d bantu lngsung oleh dukuh mangir tengah..

Misteri Gogok ( Baru Klinting ).

Malam makin kelam sitho tidak menyadari jika kenyataan jarak antara Dukuh Gunturan dengan Mangiran hampir 3 ( tiga ) kilometer lagi…

Dalam perjalanan ki Sancoko menuturkan kisah tentang Mangiran :
Selain ki Belabelu putra Prabu Brawijaya V yang merantau sampai pesisir selatan ini ada yang bernama Radyan Alembhumisani , beliau meninggalkan  Majapahit bersama isterinya  hingga ke Wanasari di Gunung Kidul …Radyan Alembhumisani  memiliki seorang putra yang bernama Radyan Wanabaya.
Nah Radyan Wanabaya inilah yang kemudian membangun pedukuhan Mangiran ini menjadi sebuah kadipaten yang makmur sehingga beliau disebut Ki Ageng Mangir Sepuh atau Ki Ageng Mangir Wanabaya.
pakai istilah sepuh …hal ini tidak lain karena kekuasaan atas kadipaten itu selanjutnya diwariskan kepada putranya yang juga bergelar Ki Ageng Mangir (2)…..
Ki Ageng Mangir Wanabaya sepuh memiliki istri putri seorang Demang  dan dari selir ini Ki Ageng mendapatkan seorang putra yang bernama  Baru Klinting.
Baru Klinting tumbuh menjadi pemuda yang sakti madraguna walaupun hidup terpisah  di kademangan bersama ibunya nyi Jalenggong.
Kesaktian Baru klinting diperoleh secara genetik a karean dia adalah anak cucu pertapa yang mumpuni ……… ilmu rogo sukmo dikuasai dalam usia muda dengan sempurna sehingga Baru klinting dapat merubah ujud dirinya menjadi apa saja…. wujud yang paling digemari adalah wujud Ular Naga..
Satu saat Bagus Baru  Klinting permisi sama ibunya untuk menemui ayahndanya di Kadipaten Mangiran…. sang Ibupun hanya berpesan hati hati dalam perjalan menjumpai Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Setelah mendapat restu ibunya maka Bagus Baru Klinting dengan gembira menuju kadipaten tempat ayahandanya berada.
Sampai di Kadipaten ternyata Bagus Baru Klinting tak dapat bertemu dengan Ki Ageng Mangir  Wanabaya  karena kebetulan ayahnya sedang semedi di Slarong……. kekecewaannya dilampiaskan di Kali  Progo ..dalam keadaan ini tanpa sadar dirinya telah berubah wujud menjadi se-ekor naga raksaksa …..celakanya penampilan naga diketahui oleh para penduduk yang sedang berhajat .
Maka Gemparlah seluruh kadipaten dengan kehadiran naga raksaksa …ciblon mandi ria di kali Progo….kegemparan sampai kepada Ki Ageng yang berada di Pertapaannya ….maka turunlah Ki Ageng dari pertapaan menemui naga yang lagi berendam di sungai …. mengetahui dirinya diperthatikan oleh Ki Ageng Maka Baru Klinting segera menghaturkan sembah baktinya kepada Ki Ageng Mangir  sembari mengatakan bahwa dia adalah puteranya sendiri yang bernama Baru Klinting dari Kademangan. ….Ki Ageng Mangir  tidak serta merta mempercayainya begitu saja …walaupun Ki Ageng Mangir tahu bahwa puteranya yang bernama Baru Klinting adalah pemuda yang sakti.
Ki Ageng Mangir menguji Baru Klinting ….maka disuruhlah dia bertapa di Merapi hingga  dapat memeluk melingkari gunung dengan dirinya……dan jika berhasil maka baru benar diakui sebagai puteranya….
Maka bertapalah Naga Baru Klinting sambil melingkari  Merapi  dengan tubuhnya ……. hari berlalu namun usaha itu belum membuahkan hasil maka dengan cerdik Baru klinting menjulurkan lidahnya yang panjang untuk mempertemukan ekor dengan kepalanya.
Mengetahui hal tersebut Ki Ageng Mangir menjadi gerah maka dihantamlah Merapi sehingga ada sebagian lidah Baru Klinting yang putus tergigit gigi sendiri…… mengetahui kejadian itu Ki Ageng jadi terkesima diambillah potongan lidah Baru Klinting dan dirawatnya…….. potongan lidah inilah akhirnya yang kemudian dikenali sebagai tombak pusaka kyai Baru Klinting……
Kyai Baru Klinting menjadi pusaka agung kadipaten Mangiran dan menjadikan Ki Ageng Mangir semakin tersohor hingga berpengaruh ke Kerajaan Mataram .
Kyai Baru Klinting akan memberikan sinyal tanda bahaya jika ada bahaya yang mengancam keselamatan Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Sinyal itu bersuara seperti gogok ayam ( gok..gok…gokk )  akan hal tersebut maka sitho dan yang sepaham menyebutnya sebagai Kyai Gogok.